TANJUNG SELOR, QUARTAL.ID – Dominasi ekonomi wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua (Kasulampua) kini kian diperhitungkan dalam peta kekuatan nasional. Berdasarkan data terbaru dalam Konsultasi Regional PDRB 2026, wilayah Timur Indonesia ini sukses mencatatkan kontribusi sebesar 18,04 persen terhadap ekonomi Indonesia.
Lonjakan signifikan ini memicu urgensi penguatan keamanan untuk menjaga tren positif hilirisasi manufaktur dan industri pengolahan di daerah.
Wakapolda Kaltara, Brigjen Pol Yusuf, menegaskan bahwa kehadiran kepolisian dalam forum ekonomi strategis ini merupakan langkah preventif guna menjamin stabilitas makroekonomi daerah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang agresif di sektor industri pengolahan wajib dibarengi dengan jaminan keamanan aset dan kelancaran distribusi.
Pola ekonomi keamanan ini menjadi krusial mengingat Kaltara kini menjadi tuan rumah bagi 19 provinsi yang tengah fokus memacu pertumbuhan ekonomi inklusif.
Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang, menilai bahwa kepercayaan menjadi motor penggerak ekonomi Kasulampua adalah amanah besar yang menuntut kolaborasi lintas sektor. Sektor manufaktur dan pertanian kini menjadi tulang punggung baru, menggeser ketergantungan pada sektor pemerintahan dan konsumsi barang luar.
Namun, transformasi ekonomi ini hanya bisa berjalan optimal jika iklim investasi tetap kondusif dan bebas dari gangguan stabilitas wilayah.
Salah satu tantangan utama yang dibahas adalah bagaimana transmisi pertumbuhan ekonomi ini dapat menyentuh masyarakat kelas bawah dan menekan angka kemiskinan secara efektif. Para pemangku kebijakan, termasuk Bank Indonesia dan BPS, sepakat bahwa kemandirian produksi daerah harus diperkuat melalui konektivitas antarwilayah.
Polri pun mengambil peran sebagai pelindung aktivitas ekonomi tersebut guna memastikan kebijakan hilirisasi tidak terhambat oleh kendala non-teknis di lapangan.
Melalui sinergi antara aparat penegak hukum dan otoritas ekonomi, Kaltara optimis mampu mempertahankan posisi strategisnya dalam bingkai NKRI.
Stabilitas keamanan tetap menjadi variabel penentu bagi para investor untuk terus menyuntikkan modal di wilayah Kasulampua demi menyongsong visi Indonesia Emas. (*)
Editor: Quartal.id





















