Senin, 18 Maret 2024 20:21 WITA

BI prediksi ekonomi Kaltara 2024 tumbuh 6 persen: Tantangan dan faktor pendukung

Ilustrasi - Aktivitas konstruksi di Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning-Mangkupadi, Bulungan, Kaltara. IST

BI prediksi ekonomi Kaltara 2024 tumbuh 6 persen: Tantangan dan faktor pendukung

Senin, 18 Maret 2024 20:21 WITA

QUARTAL.ID – Bank Indonesia memprediksi Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara pada 2024 tumbuh pada rentang 5,3 – 6 persen (yoy), didorong oleh prakiraan kinerja positif pada mayoritas sektor utama.

“Seperti sektor pertanian diperkirakan kembali tumbuh positif sejalan dengan prakiraan kondisi cuaca BMKG yang secara keseluruhan lebih kondusif dibandingkan 2023,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Utara, Wahyu Indra Sukma, dikutip fari Laporan Perekonomian Kalimantan Utara, Senin (18/3/2024).

Kondisi itu akan berdampak pada produktivitas di tengah potensi peningkatan demand atau permintaan pada komoditas pertanian utama Kalimantan Utara seperti kelapa sawit dan produk perikanan.

Sejalan dengan itu, lapangan usaha Industri Pengolahan juga diperkirakan turut mendorong pertumbuhan ekonomi 2024. Produk turunan CPO
diperkirakan mengalami pertumbuhan demand seiring dengan kondisi El Nino yang terjadi pada 2023, serta potensi demand dari negara mitra dagang sehubungan dengan adanya laju produksi minyak nabati global yang diprakirakan
melambat.

BI memprediksi, konsumsi domestik juga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan sehubungan dengan konsumsi minyak goreng serta biofuel sebagai implementasi kebijakan transisi energi Pemerintah.

Produk lainnya seperti plywood dan pulp juga diperkirakan tumbuh positif yang ditopang kuat permintaan dalam negeri yang tinggi seiring dengan pertumbuhan investasi dalam negeri serta berlanjutnya pembangunan IKN di Kalimantan Timur, serta beberapa proyek strategis nasional (PSN) di Kalimantan Utara.

Lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan diperkirakan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 2024 seiring mobilitas masyarakat yang semakin meningkat di tengah pelaksanaan Pemilu serentak pada Triwulan I 2024, Pilkada pada
Triwulan III 2024. Selain itu, berlanjutnya pembangunan PSN di Kalimantan Utara yang meningkatkan permintaan jasa transportasi.

Sejalan dengan hal tersebut, lapangan usaha Perdagangan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, serta Jasa Lain juga akan mengalami dampak positif dari sejumlah agenda besar yang dapat kembali diadakan secara luring/langsung pada 2024 ini.

Akselerasi Proyek Strategis Nasional

Lapangan usaha Konstruksi diperkirakan mendorong pertumbuhan 2024, terutama didukung oleh pembangunan sejumlah proyek strategis seperti Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kabupaten Bulungan, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Kabupaten Nunukan, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan, dan pembangunan gedung pemerintahan.

Pembangunan areal KIHI pada 2024 diperkirakan lebih akseleratif karena ditargetkan akan beroperasi pada 2025. Prakiraan kinerja Konstruksi tersebut juga sejalan dengan kenaikan target realisasi investasi Kalimantan Utara pada 2024 yang ditetapkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI sebesar Rp35,3 triliun, lebih tinggi dari target pada 2023 sebesar Rp29,98 triliun.

Lapangan usaha Pertambangan diperkirakan tetap tumbuh positif meskipun lebih lambat dari capaian  2023. Hal itu seiring dengan prakiraan normalisasi demand komoditas bahan baku energi global di tengah perlambatan ekonomi negara tujuan ekspor.

Selain itu, prakiraan perlambatan kinerja Pertambangan juga sejalan dengan siklus commodity boom yang sudah melewati fase puncaknya pada 2022.

Selain itu, lapangan usaha Perikanan juga tumbuh lambat dibandingkan 2023, seiring dengan prakiraan oversupply sehubungan adanya embargo akibat isu limbah nuklir dan perlambatan ekonomi yang terjadi negara tujuan ekspor.

Dari segi permintaan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara 2024 diperkirakan akan didukung oleh peningkatan Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah, serta investasi (PMTB) untuk mempercepat pembangunan proyek strategis.

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga diperkirakan akan positif seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan dampak positif dari sejumlah event besar yang dapat kembali diadakan secara luring/langsung pada 2024.

Lebih lanjut Pemilu dan Pilkada 2024 secara serentak memberikan dorongan positif terhadap konsumsi. Investasi 2024 juga tumbuh
kembali secara signifikan. Hal ini sejalan dengan peningkatan target realisasi investasi 2024 menjadi Rp35,3 triliun, setelah realisasi sesuai target pada 2023 sebesar Rp29,98 triliun.

Peningkatan target realisasi tersebut sejalan dengan pembangunan proyek strategis yang terus berlanjut. Kawasan Industri Hijau Internasional (KIHI) di Tanah Kuning Mangkupadi Kabupaten Bulungan akan menjadi kawasan industri hijau terbesar di dunia, mencakup kawasan industri petrokimia, smelter aluminium, dan baterai kendaraan listrik yang ditargetkan selesai
konstruksi 2024.

Pembangunan PLBN Sei Pancang di Sebatik Kabupaten Nunukan juga diperkirakan akan terus diakselerasi untuk mengejar target selesai konstruksi 2024, serta commencement atau permulaan secara bertahap antara 2025-2026.

Potensi Penghambat

Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara yang lebih akseleratif.

Kinerja perekonomian sejumlah negara tujuan ekspor seperti Tiongkok yang diperkirakan belum terlalu akseleratif dapat berdampak pada melambatnya permintaan ekspor sejumlah komoditas unggulan Kalimantan Utara seperti batubara dan produk perikanan.

Perekonomian Tiongkok pada 2025 diperkirakan tumbuh melambat sejalan dengan masih lemahnya keyakinan pelaku ekonomi dan krisis properti yang berkepanjangan.

Hal ini juga terlihat dari PMI Manufacturing Tiongkok pada periode Januari yang masih terkontraksi (49,20). Kondisi tersebut dapat berdampak pada melambatnya kinerja industri khususnya manufaktur sehingga berdampak pada
turunnya demand ekspor.

Selain itu, masih berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina serta Israel-Palestina juga dapat berdampak pada terganggunya rantai pasok global serta tingginya harga komoditas. *

Penulis: Quartal.id

Jelajahi lebih lanjut tentang topik ini