QUARTAL – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui bank di wilayah ini mencapai Rp3,65 triliun kepada 63.088 debitur hingga triwulan III-2023.
Angka ini naik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya Rp3,25 triliun kepada 57.217 debitur.
Kepala OJK Provinsi Kalsel Darmansyah mengatakan, peningkatan ini menunjukkan peran perbankan dalam mendukung sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banua.
“Kami berharap ke depannya realisasi KUR perbankan bisa lebih baik lagi, terutama menjangkau pelaku UMKM unggulan yang ada di Kalsel,” ujar Darmansyah melalui keterangan tertulis yang diterima Quartal, Jumat (19/1/2024).
Darmansyah menyebutkan, lima bank yang paling banyak menyalurkan KUR di Kalsel adalah BRI, Bank Kalsel, Bank Mandiri, BNI, dan BSI.
BRI menempati posisi pertama dengan penyaluran KUR senilai Rp2,17 triliun kepada 48.459 debitur.
Bank Kalsel berada di posisi kedua dengan penyaluran KUR sebesar Rp647 miliar kepada 5.204 debitur.
Bank Mandiri menempati posisi ketiga dengan penyaluran KUR sebesar Rp374 miliar kepada 4.123 debitur.
BNI berada di posisi keempat dengan penyaluran KUR sebesar Rp293 miliar kepada 1.745 debitur.
BSI menempati posisi kelima dengan penyaluran KUR sebesar Rp96 miliar kepada 1.245 debitur.
Darmansyah menambahkan, Bank Kalsel berkomitmen untuk memenuhi Modal Inti Minimum (MIM) pada 2024 sebesar Rp3 triliun.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan bisnis perkreditan Bank Kalsel, dengan memprioritaskan UMKM lokal.
“Ini penting agar keberadaan Bank Kalsel semakin dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, khususnya di bidang jasa keuangan,” kata Darmansyah.
Darmansyah juga melaporkan, sektor perbankan di Kalsel tumbuh dengan baik hingga November 2023.
Aset perbankan tumbuh 11,81 persen year on year (yoy) atau 25,48 persen year to date (ytd).
Kredit perbankan tumbuh 11,06 persen yoy atau 6,70 persen ytd, utamanya ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 22,21 persen yoy.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,08 persen yoy atau 18,58 persen ytd, utamanya didorong oleh peningkatan deposito sebesar 22,50 persen yoy dan tabungan sebesar 7,68 persen yoy.
Rasio LDR 76,56 persen dan NPL nett maupun gross masing-masing 0,94 persen dan 2,42 persen.
“Hal ini menunjukkan perbankan masih memiliki ruang penyaluran kredit dengan tetap menjaga kualitas kredit,” ucap Darmansyah.
Darmansyah menjelaskan, proporsi penyaluran kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit di Kalsel sebesar Rp22,9 triliun atau 36,33 persen.
Risiko kredit UMKM terjaga, hal ini tercermin dari rasio NPL gross kredit UMKM sebesar 3,24 persen hingga November 2023.
Berdasarkan sektor penyaluran kredit UMKM di Kalsel, nilai tertinggi pada perdagangan besar, disusul pertanian, lalu jasa kemasyarakatan.
“Kita harapkan untuk tahun 2024 ini sektor perbankan bisa tumbuh lebih baik lagi,” pungkas Darmansyah. *
Penulis: Quartal.ID





















