QUARTAL.ID – Dua desa di Bulungan, Desa Pejalin dan Desa Antutan, menjelma menjadi sentra produksi cokelat yang menjanjikan. Dengan luas area tanam mencapai ratusan hektar dan rumah produksi yang mumpuni, cokelat Bulungan siap menggebrak pasar lokal dan nasional.
Di Desa Pejalin, luas area tanam cokelat yang dikembangkan mencapai 120 hektar, dengan 10 hektar di antaranya sudah rutin diproduksi. Sedangkan, Desa Antutan memiliki total luas area perkebunan cokelat 100 hektar, dengan 80 hektar di antaranya sudah diolah secara rutin.
“Pembinaan kepada para petani kakao di kedua desa ini sudah dilakukan sejak tahun 2022,” kaata Bupati Bulungan, Syarwani dikutip dari portal berita resmi Pemkab Bulungan, Rabu (22/5/2024).
Ketersediaan rumah produksi cokelat di kedua desa ini semakin memperkuat potensi mereka. Desa Pejalin mendapatkan bantuan pengadaan mesin dari Dana Transfer Anggaran berbasis Teknologi (TAKE), sedangkan Desa Antutan dibantu oleh Dinas Pertanian melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi.
Rumah produksi Desa Pejalin mampu memproduksi cokelat hingga tahap bubuk dan batangan, sedangkan Desa Antutan fokus pada produksi cokelat batangan.
Desa Pejalin memiliki tujuh unit mesin produksi cokelat, sedangkan Desa Antutan memiliki empat unit.
Rumah produksi ini merupakan aset Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang dikelola kelompok tani wanita. Bupati optimistis hasil panen cokelat para petani dapat terakomodir dengan baik.
Sebelumnya, banyak petani yang menjual hasil panennya kepada tengkulak, bahkan sampai ke daerah tetangga yaitu Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Desa Pejalin, Abdul Rajak Sulaiman bilang, produksi cokelat Desa Pejalin mencapai setengah ton atau 500 kilogram per bulan. Setiap kali panen, rata-rata menghasilkan tujuh kilogram cokelat.
“Saat ini masih tahap uji coba, jadi produksi harian masih lima kilogram. Tapi targetnya per hari bisa mencapai 10 kilogram,” jelasnya.
Harga kakao kering fermentasi dibandrol Rp120 ribu per kilogram, sedangkan kakao kering tanpa fermentasi Rp70 ribu per kilogram dan kakao basah Rp50 ribu per kilogram.
Keberhasilan Desa Pejalin dan Desa Antutan dalam mengembangkan produksi cokelat menjadi bukti komitmen dan kerja keras para petani, Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dan pihak terkait.
Bupati optimistis produksi cokelat Bulungan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah. *
Editor: Quartal.id
Sumber: Pemkab Bulungan





















