Rabu, 24 Juni 2026 17:53 WITA

Pemprov pacu pendirian institusi kajian untuk geliat ekonomi kreatif

Asisten Bidang Administrasi Umum Setdaprov Kaltara, Dr. Taufik Hidayat, S.TP., M.Si., saat menyampaikan pokok pikiran pemprov dalam Dialog Kebudayaan bertema “Urgensi Kampus/Fakultas Budaya di Kaltara” di Aula Kantor Gubernur Kaltara, Tanjung Selor, Rabu (24/6). Sinergi ini ditujukan untuk merintis wadah riset formal sekaligus memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. IST

Pemprov pacu pendirian institusi kajian untuk geliat ekonomi kreatif

Rabu, 24 Juni 2026 17:53 WITA

TANJUNG SELOR – Jaringan pendidikan tinggi di Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai sudah saatnya memiliki institusi yang fokus mengakar pada kearifan lokal.

Mengingat wilayah ini kaya akan khazanah tradisi pesisir hingga pedalaman, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan lembaga pendidikan tinggi atau fakultas yang khusus mengkaji ilmu kebudayaan di Bumi Benuanta.

Sinyal dukungan tersebut ditegaskan oleh Asisten Bidang Administrasi Umum Setdaprov Kaltara, Dr. Taufik Hidayat, S.TP., M.Si., saat membuka Dialog Kebudayaan bertema “Urgensi Kampus/Fakultas Budaya di Kaltara” di Tanjung Selor Rabu (24/6).

Agenda ini diinisiasi langsung oleh Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara (YSBKU) guna menghimpun gagasan dari budayawan, akademisi, dan praktisi sejarah.

Taufik membeberkan, di tengah masifnya keberagaman suku, bahasa, seni pertunjukan, hingga pengetahuan lokal di Kaltara, ketiadaan wadah akademis formal berisiko membuat dokumentasi sejarah daerah menjadi bias.

Kehadiran kampus budaya diproyeksikan mampu memutus celah tersebut dengan bertindak sebagai episentrum riset, publikasi ilmiah, sekaligus laboratorium pelestarian adat.

“Institusi pendidikan formal seperti fakultas budaya akan memegang peran penting dalam membentengi identitas daerah sekaligus menjadi pusat kajian kritis di tengah gempuran modernisasi,” jelasnya.

Selain misi proteksi nilai sejarah, perwakilan pemprov ini menambahkan bahwa sektor budaya memiliki nilai tawar tinggi dalam mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) melalui industri kreatif.

Sektor pariwisata, kerajinan tangan, festival budaya, hingga kuliner tradisional memerlukan sentuhan riset akademis, inovasi kemasan, serta suplai SDM yang kompeten agar mampu bersaing secara komersial.

Langkah taktis ke depan, hasil dari dialog kebudayaan yang dihadiri jajaran Forkopimda, seniman, peneliti, dan komunitas adat ini akan dijadikan bahan rujukan daerah dalam merumuskan pemenuhan indikator strategis pendirian fakultas baru di universitas lokal demi pembangunan Kaltara yang berkelanjutan. (Advertorial)

Jelajahi lebih lanjut tentang topik ini